Overblog
Edit post Follow this blog Administration + Create my blog

Niumpaperheart

Niumpaperheart

Dedicated to everyone who wonders if I'm writing about them. I am


My Very Ordinary Weekend 5

Posted by Niumpaperheart on August 6 2016, 02:46am

My Very Ordinary Weekend 5

“I used to think I was the strangest person in the world but then I thought there are so many people in the world, there must be someone just like me who feels bizarre and flawed in the same ways I do. I would imagine him, and imagine that he must be out there thinking of me too. Well, I hope that if you are out there and read this and know that, yes, it’s true I’m here, and I’m just as strange as you ”

-Frida Kahlo-

Mencari pembenaran tanpa henti berusaha meyakinkan bahwa aku lebih kuat dari apa yang aku kira, Berusaha melupakan apa yang menjadi penyebabnya adalah cara mengingat apa yang sedang berusaha mati-matian aku lupakan, biarkannya mengalir agar hilang dengan sendirinya harus dimulai dengan ikhlas, sebuah kata yang rasanya hanya malaikat saja yang bisa melakukannya.

Kadang aku benci caraku berfikir, rumit, dan kadang aku lelah menanggapi apa yang aku pertanyakan pada diriku sendiri.

Untuk kesekian kalinya belum ingin meninggalkan rumah yang luas, dingin dan sepi disini, dirumah Ua, tetapi aku harus, berpamitan dan melambaikan tangan pada Dida yang baru pulang dari rumah temannya, Ua menyandarkan tubuhnya ditembok dingin itu, seperti biasa dengan selimut merah, aku berjalan dengan sepatu yang tidak karuan warnanya, sekitar lima belas menit kulihat senja mulai menerangi perjalananku mengambil motor di bilik Yep, aku tahu perasaan ini memutar memory hampir beberapa puluh tahun lalu, aku dan mama berjalan disebuah rel kereta yang sudah tidak terpakai, menyusuri jalanan kecil penuh rumput liar, senja itu, membuat bayangan yang sangat cantik, cara mama menuntunku membuat bayangan yang rasanya ingin sekali aku gambar saat itu juga, aku berjalan tersenyum dan menunduk tak ingin melepas pandangan pada bayangan berwarna hitam dengan warna orange di dasar jalan dari pantulan senja, bentuk bayangan mama sangat cantik, aku sangat mengagumi cara mama berpakaian, dia sangat elegan, longdress motif polka berwarna hitam dan hijau tua dengan dasar kain hitam, dia menggandeng tangan kiriku dan tangan kanannya memegang tas kecil berwarna hitam aku tahu itu tas favoritnya, tangan kananku mententeng sebuah kotak berisi donat berukuran jumbo untuk ukuran tangan kecilku dan tidak terlalu empuk dengan tepung manis yang hanya menempel pada mentega yang diolesnya, pemberian sodara mama yang memiliki usaha makanan ringan, “aku suka donat” teriaku sepanjang jalan, mama bilang “mama tahu” dan kami terus berjalan tanpa memperhatikan hari yang semakin gelap.

“mengapa banyak orang berpakaian aneh tadi?” tanyaku menengadah, mama menjawab tanpa menatapku “itu karnaval perayaan kemerdekaan” aku menanyakan banyak hal tentang karnaval yang aku saksikan di warung sodara mama yang tidak terlalu luas, aku melihat karnaval tersebut dibalik jendela kecil digudang tempat makanan ringan ditumpuk, aku disuruh mama menunggu disana, pertama aku merasa kebingungan dan takut tetapi aku tertarik dengan berbagai bungkus snack disana, aku melihat saja sekeliling dan sesekali memastikan bahwa mama ada didekat pintu sedang berbincang sesuatu yang sepertinya penting, suara gadung diluar tembok itu membuatku penasaran, aku memanjat keatas kardus-kardus yang aku rasa aman untuk menompang badan kurus ini, kulihat banyak sekali orang memakai kostum seperti mau berperang, ada beberapa kostum badut, dan tank baja yang terbuat dari kardus.

Pria dewasa yang memakai kostum tentara dengan muka penuh coretan arang dan tongkat runcing dengan warna merah diujungnya.. entahlah aku tidak menyukai jenis karnaval seperti itu, aku tidak suka keramaian, aku tidak suka badut, kostum dan cat warna merah yang biasa mereka pakai sebagai warna menyerupai darah, aku tidak menyukai sesuatu yang mengingatkanku pada hal yang menyakitkan.

Sesampainya dibilik Yep, lamunanku beberapa tahun lalu terhenti. Ada seseatu yang mengalihkan perhatianku sekedar jalan dan senja.

Yep memakai kaos abu tua dengan celana jogernya berwarna hitam dengan garis putih dua dipaha kirinya, dia meletakan kedua tangannya dipagar yang cukup pendek mengelilingi lantai rumah bambu itu, dia tersenyum padaku, ah Tuhan… bisakah dia sedikit saja menjadi jelek atau menua agar aku tidak berfikiran yang tidak-tidak tentang masa laluku yang satu ini.

Aku berhenti dan tersenyum kecil, menggoyangkan tanganku, Yep menunjukan kunci motor padaku “langsung atau masuk dulu?” ajaknya, aku menggeleng “keburu gelap dijalan, aku harus cepat pulang” dia hanya mengangguk kecil.

Aku bersiap mengarungi dua puluh menit lebih perjalanan pulang dengan motor yag terasa lebih ringan, bahkan aku tidak harus menstater berulang, aku menyipitkan mataku, dan memiringkan kepala berbalik ke arahnya, Yep berdiri dipinggir motor, aku menatapnya “kamu?” dia mengangguk “dikit kok” aku tersenyum “terima kasih lho” aku bersiap pergi dan melambaikan tanganku pada yep, aku meninggalkan desa ini disore hari, kembali, ada saja sesuatu yang terasa tertinggal disana, sesekali aku melihat kaca spion motor, dan Yep masih berdiri disana, memastikan aku baik-baik saja sampai hilang dalam pandangan.

To be informed of the latest articles, subscribe:
Comment on this post

Blog archives

We are social!

Recent posts