Overblog
Edit post Follow this blog Administration + Create my blog

Niumpaperheart

Niumpaperheart

Dedicated to everyone who wonders if I'm writing about them. I am


My Very Ordinary weekend 4

Posted by Niumpaperheart on July 1 2016, 08:20am

My Very Ordinary weekend 4

Aku masih terbangun, jam dinding berdetak membuatku panik, ketukannya terus memaksaku terjaga, aku bergeser ke tengah kasur karena tembok sebelah kanan terasa lebih dingin dan lembab, tepat pukul 00.30 malam aku masih memperhatikan tembok kekuningan, dengan lukisan pahlawan yang entah dibuat tahun berapa, dan aku terlalu malas membaca siapa nama pahlawan tersebut, dia sedikit mirip dengan gambar pahlawan di uang rupiah seribuan, dan piring-piring kecil yang dipaku di tembok dengan tujuan untuk hiasan, gambarnya seperti karakter film mandarin atau taiwan atau cina entahlah aku tidak tahu bedanya, yang jelas pemenerannya ada empat pria dengan rambut sebahu dan seorang wanita imut bermuka pucat berambut hitam panjang dan lurus tersenyum bahagia adapun tulisan berliuk-liuk di piring itu jika ku perhatikan seperti tulisan meteor garden tapi aku tidak yakin, ini kerjaan si Dida pastinya dan ini juga sebagai salah satu faktor aku tidak bisa tidur.

Suara yang semakin gaduh didapur membuatku memutuskan untuk bangun dan memakai coat coklat yang sudah aku bersihkan kemarin dan mengering karena tergantung dipintu, kubuka pintu kamar dan diruang tamu terasa sangat dingin, kulitku kaku seketika, rumah ua cukup luas, mengantarkan berbagai bunyi ke telinga dengan sangat mudah.. aku berjalan pelan mengikuti sumber suara gaduh dan mengintip ke dapur, kulihat ua tengah malam mencuci piring yang aku tahu benar bahwa semua piring itu dalam keadaan bersih, wajahnya memerah, tatapannya kosong, tangannya menggosok dengan gemetar, hatiku hancur melihatnya, dia selalu seperti ini jika teringat paman.

Ua menatapku dan tertunduk, nafasnya berat. aku terpaku melihatnya, dia membersihkan tangan dengan air dan handuk yang menggantung di tembok, berjalan pelan dan berlalu, tak ada yang bisa aku lakukan, aku mengikutinya pelan dari belakang dan memastikan dia masuk kamarnya.

Dia mengunci kamar dan aku duduk lemas disofa tempat membaca, kunyalakan lampu remang-remang disebelah, Ua sangat kuat, dia tidak serapuh ini, tapi kenyataan dan waktu menelan semua ketegarannya.

***

Sesuatu terasa menggoyang-goyangkan tanganku, "udah pagi, gak pulang?" tak terasa aku tertidur di kursi.

"aku mau ke kebun, kau harus pulang, besok kerja kan?" ua menggenggam seikat bunga. berlalu, dengan selendang merahnya terlihat hangat.

"aku ikut".. bergegas setelah cuci muka aku berjalan beriringan dengannya, pagi yang segar dan tak kalah dingin dengan cuaca tadi malam.

Aku bergegas mengikutinya, dia berjalan dengan boots yang berat, dipastikan langkahnya pelan,

“baru beberapa hari yang lalu kau mengunjungi makamnya kan? Dida cerita padaku kau pulang larut dan meriang karena masuk angin, jangan repotkan anak itu dengan keras kepalamu, dia butuh waktu untuk main.. dia tidak bisa terus bersamamu setiap saat”

Dia melirikku dengan ujung matanya, “Dida tidak sepertimu yang sibuk memikirkan bagaimana perasaannya sendiri” aku terhentak dan mengedipakan mata beberapa kali, aku tahu ini reaksi aku menerima pernyataan tersebut tetapi tidak seperti itu juga.

“apakah aku seegois itu Ua?” pertanyaan ini bermaksud membuatnya terus bicara dan tidak terfokus pada kesedihannya, siapa tahu dengan berbicara seenaknya tentangku dia bisa sedikit tersenyum atau minimal memutar matanya.

“kalau kau tidak egois, mungkin kamu tidak akan selalu sendiri seperti ini mengunjungiku..” ah baiklah, tema itu lagi, teman hidup, pacar, dan suami.

“aku tidak mau merepotkan orang dengan sifatku yang seperti ini Ua.. mencintai seseorang terlalu dalam membuatku lupa bagaimana membahagiakan dan membebaskan diriku sendiri, kebahagiaanku yang paling utama adalah aku jujur pada dirikku sendiri, aku ingin hidup tidak terlalu meninggalkan kesan buruk pada banyak orang, dan meninggalkan kesan baik pada banyak orang? aku tidak sehebat itu..”

“mencintai seseorang sangat dalam kamu akan mengerti bahwa kau adalah bagian dari orang-orang yang kamu habiskan waktu bersama mereka, dan jangan pernah bilang kalau kau menyesal mengenal mereka yang meninggalkan, jangan pernah lupakan bahwa kamu pernah merasa nikmatnya tertawa dengan mereka, bercerminlah, kau akan merasakan bagaimana setiap inci dalam dirimu adalah potongan kenangan bersama mereka yang datang, diam dan pergi.. ” percuma aku berargumen dengan wanita ini, dia sangat mengenalku, jalanan curam menuju makam paman, Ua cekatan melewati parit-parit, dan aku masih kelimpungan mencari pijakan, kalau dipotretkan mungkin aku seperti peserta di acara Benteng Takeshi.

Tiba di makam paman, dia menaruh ikatan bunga yang kesekian puluh dan masih menumpuk di makam, aku menyandar pada pohon yang tinggi dan memperhatikan Ua dari jauh.

Dia menyimpan bunga kemudian berdoa, mengusap nisannya dan tidak meneteskan air mata sedikitpun, dia hanya membersihkan daun-daun tua yang jatuh dari pohon rindang diantara makam-makam tersebut.

Dia tertunduk dan membelakangiku, “Kau boleh duluan.. aku ingin sebentar disini”.

Aku menghela nafas dan pura-pura tidak memperhatikannya agar dia bisa menangis dengan leluasa jika dia mau.

"aku gak akan pulang duluan, aku tunggu disini”

Suara isaknya mulai terdengar, tetapi aku menolak untuk mendekatinya.

To be informed of the latest articles, subscribe:
Comment on this post

Blog archives

We are social!

Recent posts