Overblog
Edit post Follow this blog Administration + Create my blog

Niumpaperheart

Niumpaperheart

Dedicated to everyone who wonders if I'm writing about them. I am


my very ordinary weekend

Posted by Niumpaperheart on March 9 2016, 04:46am

my very ordinary weekend

Ketika itu weekend tiba pada tanggal dimana tabunganku mulai menipis, uang upahku perbulan rata-rata aku habiskan 80% untuk menabung dan sisanya untuk asuransi dan makan, jangan bayangkan betapa mirisnya gaya hidupku, tapi aku sangat bersyukur atas apa yang aku dapatkan sampai detik ini.Ini baik menurutku, dengan keadaanku yang single dan tidak terlalu suka belanja atau berwisata kuliner aku tidak terlalu suka jalan-jalan di mall, sudah dua tahun aku single dan kadang lupa rasanya bagaimana indahnya mall, setidaknya aku tidak akan digoda lagi barang-barang diskonan yang melemahkan imanku.Weekend biasanya aku habiskan hanya menonton DVD dirumah, ketemu teman-teman di café terdekat, pulang, menulis dan membaca. Ketika weekend dan sedikit jengah dengan bisingnya suara knalpot kendaraan, orang-orang yang berisik di gang, aku mencoba mencari tempat untuk menjernihkan fikiranku, biasanya escape ke tempat ua, dia janda dari pamanku yang meninggal hampir berapa belas tahun lalu, dia adalah ibu kedua untukku, semenjak SD aku dititipkan padanya karena orangtuaku sibuk berdagang, kegiatan favoritku ketika bersamanya waktu kecil adalah sehabis pulang sekolah aku selalu tidur dipangkuannya di teras depan rumahnya yang hanya terbuat dari semen dan ademnya aku deskripsikan lebih segar daripada tidur dikeramik mahal sekalipun, dia hanya mengelus-elus kepalaku sampai aku tertidur dengan seragam yang masih aku pakai.Aku membawa motor matic putih dan helm kesayanganku dengan motif anime yang sepertinya sudah terlalu mainstream jika aku gunakan tapi apa daya aku malas membeli yang baru, untuk berkendara kesana hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai, karena aku harus menelusuri jalan-jalan yang rusak dan berbatu kadang membuatku khawatir jika hujan turun, karena motor yang aku pakai bukan untuk offroad.Ketika itu hari sangat cerah, aku beruntung, kulihat hanya ada dia yang sedang berdiri disudut pintu dekat warung tua nya yang sudah lama tutup, dia memakai selimut merah terlihat kedinginan karena disana tempat yang tinggi sehingga udaranya dingin, dia tersenyum melihatku datang dan seperti biasa aku mencium tangannya menanyakan kesehatannya, dan datang si Dida cucu perempuan, berteriak “hey” dan memelukku dengan erat, anak ini menurutku sangat pintar, dia adalah anak yang memiliki tingkat kedewasaan jauh diatas usia dia sebenarnya, dia sering menawarkanku cemilan kamppng sana yang murah, tapi enak.Dida anak 12 tahun, sangat ceria dan sangat suka sekali berteriak, seperti ada kembang api dan petasan didalam tubuhnya, dia selalu bersemangat, bergembira dan meluap-luap, aku kadang tertawa melihat kelakuannya, apalagi ketika dia beradu argument dengan neneknya, iya ua aku itu, mereka seperti sedang bermain perang kata, sesimple itu mereka membuatku tertawa seperti orang kesetanan.Aku duduk di teras ujung dimana ketika kakiku kuletakan disebelah teras, aku akan menginjak rumput yang entah bernama apa tapi banyak sekali duri berwarna hitam padahal daunya sangat hijau indah dilihat, pemandangan didepanku hanya tertutup pohon alpukat tua dan kering yang entah kapan terakhir berbuah, Ua berjalan dan duduk disampingku dia jarang sekali berbicara panjang lebar, dia hanya memandangi ayam-ayam yang berkeliaran didepan, Dida membawakanku segelas kecil kopi mocachino kesukaanku, disana tidak sekeren itu, kopi ini hanya kopi siap seduh, dan empat buah bakwan (bala-bala) hangat.“nih manthap” dia menaruhnya diantara aku dan Ua, sambil menunjukan gigi ompongnya dan sebuah jempol, aku terkejut dan sangat bahagia, “lengkap” aku memujinya dan memberinya uang sepuluh ribuan dida malu-malu tapi aku tahu ini benar-benar maksud dari dia memberikan bala-bala nya padaku dengan bersemangat, aku bahkan tidak keberatan, ah dasar anak ini.Aku sering bercerita dengan Ua, bagaimana rumitnya fikiranku mengenai hidup dan pasangan, dan sering sangat sederhana jawabannya, dia bilang perempuan dulu mencintai suaminya, dan hanya kenal sepintas dahulu sebelum menikah, dahulu yang difikirkan bagaimana menghidupi keluarga dan menikmatinya, sekarang karena merasa sudah memiliki semua, ada-ada saja yang difikirkan, dia bilang aku hanya perlu mengosongkan sebagian dari diriku untuk bisa menerima isi lain, tidak melulu semuanya tentang diriku, dan aku bertanya padanya kenapa dia tidak menikah lagi, dia tidak pernah menjawab itu, padahal aku tahu pasti jawabannya, aku hanya terlalu kurang ajar selalu menanyakan.Sore mulai datang, dan rasanya terlalu riskan jika aku berkendara melewati hutan sendirian, aku pamit pulang, Ua selalu menawarkan untuk menginap, padahal dia tau benar kalau besok aku sudah mulai masuk kerja, aku menggeleng dan tersenyum, "InsyaAllah kalo nanti libur panjang" janjiku.Aku mencium tangannya dan berpamitan, Dida cemberut kalau aku pulang, aku mengacak-ngacak rambutnya.Berkendara menuju pulang aku sering dikejutkan beberapa kejadian yang lucu, ketika berkendara beberapa meter aku melihat beberapa anak laki-laki yg sedang bersepedah dan sebagian memetik jambu biji, aku membawa motor pelan dan memperhatikan betapa cerianya mereka, aku memotret mereka dan salah satunya ada Seto aku tahu dia teman Dida, Seto tersenyum padaku dan aku melambaikan tangan, Seto terburu-buru turun dari pohon, dia berjalan mendekatiku dan menawarkan jambu biji yg ada hampir disetiap sudut saku bajunya, aku tertawa dan mengambil satu dari rompi bututnya dan berucap "makasih" membersihkan dengan jaketku seadanya dan memakannya, semua bocah melihat lahapnya aku memakan jambu biji yang keras, asam tapi segar.aku kembali berkendara, dan dijalan selalu ada hal yang seolah tertinggal disana, separuh jiwaku masih ingin lama bersama Dida dan Ua. jika aku sempat aku akan sering mengunjungi kalian, aku berjanji.

To be informed of the latest articles, subscribe:
Comment on this post

Blog archives

We are social!

Recent posts